Ini kejadian kemarin,
Kamis 7 Mei 2015.
Morning was dull. Pagi
hariku sangat biasa, hanya saja kelas kami tidak mendapat sesi 1 kuliah yang
membuatku punya lebih waktu untuk diriku sendiri. Waktu untuk diriku sendiri
maksudnya mandi pukul 9 pagi atau well... pagi ini aku belajar ekonomi (yang berujung
chatting dengan teman2ku di whatsapp). Tidak ada yang terlalu spesial. Aku
berangkat kuliah di sesi 2 (sesi 2 mulai pukul 10.15) dan selesai kuliah pukul
13.00. Aku berencana memeriksakan mataku yang sepertinya semakin kacau
penglihatannya sepulang kuliah, tapi untuk mendapat company sangat susah.
Karena sudah mendekati waktu UTS, teman2ku jadi seperti punya kepercayaan kalau
kau akan sial saat ujian nanti jika hari ini bepergian. It’s fine, they’re just
worried. Too worried. Tapi untungnya aku mendapat company, he’s my friend
*bukan kau, Jamie*. Tapi aku tidak akan menceritakan tentang temanku ini (nanti
saja kalau ada waktu). Ada hal lain yang harus kutulis.
Aku sampai di optik
sekitar pukul ... aku lupa. Mungkin sekitar jam 3.30 sore. Dan aku memeriksakan
mataku. Yep, -0.5 bagian kiri, -0.5 dan silinder -0.5 bagian kanan. Tapi aku
merasa mata kiriku lebih kabur dari sekadar -0.5, jadi aku meminta untuk
dipasangkan lensa 0.75 untuk mata kiriku. Butuh waktu setengah jam untuk
menyelesaikan kacamataku. Sambil menunggu, aku pergi ke tempat service
cellphone karena tiba2 saja tadi siang ponselku tidak bisa di-charge. Di sana
ponselku diutak-atik, dibongkar-pasang, lalu entah diapakan lagi. Ponselku bisa
di-charge! So, i paid the service, and got back to take my glasses. Kacamataku
juga sudah jadi dan aku langsung memakainya. Well, aku bisa melihat dengan
jelas sekarang, hanya saja memakainya terlalu lama membuatku pusing dan pegal
pada mataku. Tapi toh aku memakainya. Lalu kami berdua pergi membeli senar gitar
nilon nomor 4. Tempat itu lumayan jauh dari pusat grosir tempat kami membeli
kacamata dan service ponsel dengan berjalan kaki. Setelah kami mendapatkannya,
kami pulang ke kosan kami masing2 (yap. Hanya begitu saja).
Sesampainya di kosan
aku mencoba charge ponselku dan.... it didn’t work. Hmm,, i was more like...
... it doesn’t work...
...it doesn’t work?....
IT DOESN’T WORK!
It was working...
........................................................
....................no..............................
It doesn’t work.....
What did i do? What have i done? Oh God,
forgive me. I kept blaming my self and i even cried. Yea i cried alot lately L. Shame. Aku tanya
semua temanku apakah ada service ponsel di dekat tempat tinggalku? Ada satu
yang menjawab. Ada. Lalu aku pergi ke sana di tempat yang ditunjukkan temanku.
Sesampainya di sana..
“Bu, bisa servis
ponsel?”
“tidak bisa, kami hanya
servis PC”.... i’m feeling like ........
Setahu penjaga toko
itu, tempat service ponsel adalah tempat di mana aku menserviskan ponselku
tadi. Kau pasti tahu. I.am.feeling.pissed.off. tapi, kupikir yasudahlah. Aku
akan kembali besok ke tempat itu. Toh sudah malam.
Dan ternyata..
Aku naik angkot malam
itu juga. Saat itu pukul 19.07 dan kuharap tempat itu belum tutup. Dan memang
belum tutup. Aku segera mencari tempat service ponselku tadi sore tapi aku
tidak dapat menemukannya. Terpaksa aku pergi ke tempat service lain di dekat
situ. Setelah menemukannya, ok, it’s gonna be fixed soon and i’ll be happy
again. Aku menunggu sekitar.. 1 jam? tidak tahu. Aku tidak membawa jam. There’s
nothing much i could do while i was waiting.. rasanya pusing. Efek kacamata
baru (aku benar2 pusing). Setelah kira2 1 jam berlalu (mungkin lebih), tukang
service mengembalikan ponselku and he said “sama aja mbak, ga bisa dicharge,
udah diganti berulangkali tapi jalurnya ga ketemu”.
.... say what?...
Jadi, akhirnya aku
membeli charger desktop (T_T). Well, memang lebih murah daripada biaya servis
tadi. But really?.. ok, i’ll buy a new phone.. tapi saat ini aku masih ada
masalah keuangan, so.. maybe later.
Toko-toko lain sudah
tutup and actually that scared me a lil bit so i ran. Aku tidak sempat melihat
jam di ponselku (karena diutak atik tadi daya bertambah 20%) yang kutahu aku
ingin segera pulang. untuk mendapat angkot pulang aku harus menyeberang. Ok aku
menyeberang. .....
Tidak ada angkot no. 06
yang lewat. Apa yang harus kulakukan? Jadi begini keadaannya: aku capek, aku
lapar, pengeluaranku sudah sangat banyak, dan aku harus berhemat. Tidak mungkin
aku naik taxi. Akhirnya aku menyusuri jalan yang kulewati bersama temanku tadi
sore saat ia ingin membeli senar gitar. Di mana tempatnya tadi? Aku sudah
menyeberang dan seharusnya ini jadi mudah. Aku terus berjalan lurus saja. Tidak
ada tikungan yang sama seperti yang kulewati tadi sore. Mungkin hanya belum
ketemu.
Aku berjalan terus
saja.
Tapi perjalananku tadi
tidak sejauh ini....
Ok sepertinya aku
menemukan perempatan.. oh, bukan itu tempatnya..
... sial...
Ada keadaan lain yang
belum kusebutkan: I was damn alone, it’s dark, and i had no idea where the hell
i was. Akhirnya aku berbalik dan berjalan lagi ke tempatku menyeberang tadi..
“pak, biasanya angkot
06 lewat mana ya?”
“duh masih jauh neng,
dari sini naik (angkot) dulu lalu di perempatan lampu merah sana baru ada”.
Ternyata aku berjalan
sangat jauh. Ok,, ok... (sigh). Aku berjalan lagi. Perjalanan kembali ke tempat
servis terasa lebih jauh. Aku benar-benar kepayahan. Kacamataku sepertinya
memperburuk keadaan karena aku merasa lebih pusing. Pusing, lapar, kebingungan,
dan takut. Rasanya aku ingin menangis lagi. Bukan. Rasanya aku harus segera
bangun. Aku berharap itu mimpi buruk karena mimpi yang paling kutakuti adalah
tersesat. Oh ya, mungkin kau bertanya kenapa aku tidak bertanya pada orang
sejak awal kemana arah jalan pulang. Itu tidak biasa kulakukan. Bertanya adalah
opsi terakhir, dan inilah yang kudapat. Seriously, what have i done? Kenapa lama
sekali aku sampai di tempat servis tadi? Astaga,,, aku benar-benar tidak
mengenal tempat ini. Tidak, aku tidak menikmati petualangan ini. Dan entah
kenapa yang kupikirkan adalah spiderman. Tidak ada hubungannya. Hmm.. apakah
setelah kejadian ini aku jadi manusia super? Oh, di belakangku ada penguntit
membawa pistol, di mana aku harus bersembunyi? Lupakan. Jalan saja. Tidak ada
penguntit membawa pistol. Hey di mana Wolly dan Jamie? Bagus. Mereka pergi.
Ternyata aku dehidrasi.
Aku harus segera membeli minum, sekalian bertanya pada penjual minuman itu
dimana aku bisa mendapat angkot untuk pulang.
“sampai di perempatan
itu harus nyebrang dulu dek”. Tidak masuk akal. Aku tadi sudah menyeberang.
Tapi apa aku tahu jalan pulang? tidak. Sialan. Aku menuruti kata bapak itu dan
menyeberang lagi. Hmm... ini jadi masuk akal. Tempatku menyeberang adalah
seberang tempat servis ponsel, dan setelah aku melihat jalanannya... i was
completely going the other way. Tadi aku benar-benar berjalan ke arah yang
berlawanan. Well, 900 berlawanan dan aku tidak tahu arah mata angin.
Komplek pertokoan itu sangat luas dan itu membuatku bingung. Sekarang aku tahu
navigasiku benar-benar payah, dan pergi ke tempat ini sendirian (malam hari
pula) adalah kesalahan besar
“arah kampung melayu?”
“ya”.
Ok, aku sudah menaiki
angkot. Rasanya seperti akhir dari film buron dimana buron itu bebas. Dan.. aku
pulang ke kos.
I gotta fix
something...
Something...
I need some sleep...