Translate

Friday, 8 May 2015

Get Glasses, Get Charged, and Get Lost

Ini kejadian kemarin, Kamis 7 Mei 2015.
Morning was dull. Pagi hariku sangat biasa, hanya saja kelas kami tidak mendapat sesi 1 kuliah yang membuatku punya lebih waktu untuk diriku sendiri. Waktu untuk diriku sendiri maksudnya mandi pukul 9 pagi atau well... pagi ini aku belajar ekonomi (yang berujung chatting dengan teman2ku di whatsapp). Tidak ada yang terlalu spesial. Aku berangkat kuliah di sesi 2 (sesi 2 mulai pukul 10.15) dan selesai kuliah pukul 13.00. Aku berencana memeriksakan mataku yang sepertinya semakin kacau penglihatannya sepulang kuliah, tapi untuk mendapat company sangat susah. Karena sudah mendekati waktu UTS, teman2ku jadi seperti punya kepercayaan kalau kau akan sial saat ujian nanti jika hari ini bepergian. It’s fine, they’re just worried. Too worried. Tapi untungnya aku mendapat company, he’s my friend *bukan kau, Jamie*. Tapi aku tidak akan menceritakan tentang temanku ini (nanti saja kalau ada waktu). Ada hal lain yang harus kutulis.
Aku sampai di optik sekitar pukul ... aku lupa. Mungkin sekitar jam 3.30 sore. Dan aku memeriksakan mataku. Yep, -0.5 bagian kiri, -0.5 dan silinder -0.5 bagian kanan. Tapi aku merasa mata kiriku lebih kabur dari sekadar -0.5, jadi aku meminta untuk dipasangkan lensa 0.75 untuk mata kiriku. Butuh waktu setengah jam untuk menyelesaikan kacamataku. Sambil menunggu, aku pergi ke tempat service cellphone karena tiba2 saja tadi siang ponselku tidak bisa di-charge. Di sana ponselku diutak-atik, dibongkar-pasang, lalu entah diapakan lagi. Ponselku bisa di-charge! So, i paid the service, and got back to take my glasses. Kacamataku juga sudah jadi dan aku langsung memakainya. Well, aku bisa melihat dengan jelas sekarang, hanya saja memakainya terlalu lama membuatku pusing dan pegal pada mataku. Tapi toh aku memakainya. Lalu kami berdua pergi membeli senar gitar nilon nomor 4. Tempat itu lumayan jauh dari pusat grosir tempat kami membeli kacamata dan service ponsel dengan berjalan kaki. Setelah kami mendapatkannya, kami pulang ke kosan kami masing2 (yap. Hanya begitu saja).
Sesampainya di kosan aku mencoba charge ponselku dan.... it didn’t work. Hmm,, i was more like...
... it doesn’t work...
...it doesn’t work?....
IT DOESN’T WORK!
It was working...
........................................................
....................no..............................
It doesn’t work.....
 What did i do? What have i done? Oh God, forgive me. I kept blaming my self and i even cried. Yea i cried alot lately L. Shame. Aku tanya semua temanku apakah ada service ponsel di dekat tempat tinggalku? Ada satu yang menjawab. Ada. Lalu aku pergi ke sana di tempat yang ditunjukkan temanku. Sesampainya di sana..
“Bu, bisa servis ponsel?”
“tidak bisa, kami hanya servis PC”.... i’m feeling like ........
Setahu penjaga toko itu, tempat service ponsel adalah tempat di mana aku menserviskan ponselku tadi. Kau pasti tahu. I.am.feeling.pissed.off. tapi, kupikir yasudahlah. Aku akan kembali besok ke tempat itu. Toh sudah malam.
Dan ternyata..
Aku naik angkot malam itu juga. Saat itu pukul 19.07 dan kuharap tempat itu belum tutup. Dan memang belum tutup. Aku segera mencari tempat service ponselku tadi sore tapi aku tidak dapat menemukannya. Terpaksa aku pergi ke tempat service lain di dekat situ. Setelah menemukannya, ok, it’s gonna be fixed soon and i’ll be happy again. Aku menunggu sekitar.. 1 jam? tidak tahu. Aku tidak membawa jam. There’s nothing much i could do while i was waiting.. rasanya pusing. Efek kacamata baru (aku benar2 pusing). Setelah kira2 1 jam berlalu (mungkin lebih), tukang service mengembalikan ponselku and he said “sama aja mbak, ga bisa dicharge, udah diganti berulangkali tapi jalurnya ga ketemu”.
.... say what?...
Jadi, akhirnya aku membeli charger desktop (T_T). Well, memang lebih murah daripada biaya servis tadi. But really?.. ok, i’ll buy a new phone.. tapi saat ini aku masih ada masalah keuangan, so.. maybe later.
Toko-toko lain sudah tutup and actually that scared me a lil bit so i ran. Aku tidak sempat melihat jam di ponselku (karena diutak atik tadi daya bertambah 20%) yang kutahu aku ingin segera pulang. untuk mendapat angkot pulang aku harus menyeberang. Ok aku menyeberang. .....
Tidak ada angkot no. 06 yang lewat. Apa yang harus kulakukan? Jadi begini keadaannya: aku capek, aku lapar, pengeluaranku sudah sangat banyak, dan aku harus berhemat. Tidak mungkin aku naik taxi. Akhirnya aku menyusuri jalan yang kulewati bersama temanku tadi sore saat ia ingin membeli senar gitar. Di mana tempatnya tadi? Aku sudah menyeberang dan seharusnya ini jadi mudah. Aku terus berjalan lurus saja. Tidak ada tikungan yang sama seperti yang kulewati tadi sore. Mungkin hanya belum ketemu.
Aku berjalan terus saja.
Tapi perjalananku tadi tidak sejauh ini....
Ok sepertinya aku menemukan perempatan.. oh, bukan itu tempatnya..
... sial...
Ada keadaan lain yang belum kusebutkan: I was damn alone, it’s dark, and i had no idea where the hell i was. Akhirnya aku berbalik dan berjalan lagi ke tempatku menyeberang tadi..
“pak, biasanya angkot 06 lewat mana ya?”
“duh masih jauh neng, dari sini naik (angkot) dulu lalu di perempatan lampu merah sana baru ada”.
Ternyata aku berjalan sangat jauh. Ok,, ok... (sigh). Aku berjalan lagi. Perjalanan kembali ke tempat servis terasa lebih jauh. Aku benar-benar kepayahan. Kacamataku sepertinya memperburuk keadaan karena aku merasa lebih pusing. Pusing, lapar, kebingungan, dan takut. Rasanya aku ingin menangis lagi. Bukan. Rasanya aku harus segera bangun. Aku berharap itu mimpi buruk karena mimpi yang paling kutakuti adalah tersesat. Oh ya, mungkin kau bertanya kenapa aku tidak bertanya pada orang sejak awal kemana arah jalan pulang. Itu tidak biasa kulakukan. Bertanya adalah opsi terakhir, dan inilah yang kudapat. Seriously, what have i done? Kenapa lama sekali aku sampai di tempat servis tadi? Astaga,,, aku benar-benar tidak mengenal tempat ini. Tidak, aku tidak menikmati petualangan ini. Dan entah kenapa yang kupikirkan adalah spiderman. Tidak ada hubungannya. Hmm.. apakah setelah kejadian ini aku jadi manusia super? Oh, di belakangku ada penguntit membawa pistol, di mana aku harus bersembunyi? Lupakan. Jalan saja. Tidak ada penguntit membawa pistol. Hey di mana Wolly dan Jamie? Bagus. Mereka pergi.
Ternyata aku dehidrasi. Aku harus segera membeli minum, sekalian bertanya pada penjual minuman itu dimana aku bisa mendapat angkot untuk pulang.
“sampai di perempatan itu harus nyebrang dulu dek”. Tidak masuk akal. Aku tadi sudah menyeberang. Tapi apa aku tahu jalan pulang? tidak. Sialan. Aku menuruti kata bapak itu dan menyeberang lagi. Hmm... ini jadi masuk akal. Tempatku menyeberang adalah seberang tempat servis ponsel, dan setelah aku melihat jalanannya... i was completely going the other way. Tadi aku benar-benar berjalan ke arah yang berlawanan. Well, 900 berlawanan dan aku tidak tahu arah mata angin. Komplek pertokoan itu sangat luas dan itu membuatku bingung. Sekarang aku tahu navigasiku benar-benar payah, dan pergi ke tempat ini sendirian (malam hari pula) adalah kesalahan besar
“arah kampung melayu?”
“ya”.
Ok, aku sudah menaiki angkot. Rasanya seperti akhir dari film buron dimana buron itu bebas. Dan.. aku pulang ke kos.
I gotta fix something...
Something...

I need some sleep...

No comments:

Post a Comment